Breaking News

no image

Sebelum masuk ke ulasan experience saya mau bercerita dulu alasan saya memilih Vivo V3 sebagai daily driver. Brand Vivo di indonesia kurang terdengar tidak seperti di indonesia. Padahal vivo ini masih satu group sama Oppo yang sekarang udah masuk brand nomer 3 di indonesia. Awal cukup ragu sama vivo tapi karena fitur yang dicari ada semua dan di range harga sesuai budget jadilah ambil smartphone ini.

Saya mencari smartphone kekinian ukuran 5 inchi. Kekinian yang saya maksud adalah yang memiliki kriteria berikut : Case alumunium/metal, ada fingerprint scanner. Selain itu saya perlu smartphone dengan Ram 3GB biar upgrade dari smartphone lama saya zenfone 2 550ml1 yang Ramnya cuma 2GB. Kebutuhan micro sd dan dual sim card mutlak buat saya. Kalaupun nggak pakai micro sd, internal storage 32GB wajib hukumnya. Berhubung handset lama tidak ada gyroscope yang jadinya kurang asik buat main VR maka sensor gyroscope menjadi mutlak buat saya. Ukuran layar saya putuskan 5 inchi saja karena lebih compact dan lebih enak untuk satu tangan. Pengalaman pakai zenfone 2 yang 5.5 ngerasa kurang compact dan ribet kalau pakai satu tangan walaupun ada one handed mode.

Ok jadi bisa disimpulkan yang saya cari memiliki kriteria beriktu:
- Layar 5 inchi
- Dual Sim
- Body metal
- Finger print
- Ram 3GB
- Dedicated micro SD
- Sensor Gyroscope

semua itu ada di smartphone vivo V3 yang saya dapatkan dengan harga 2,6an juta saja potong bonus dari elevenia. Membandingkan dengan beberapa smartphone yang punya fitur tersebut agak susah. Terutama masalah dedicated micro SD. Giliran ada micro SD malah nggak ada finger print. Giliran ada yang komplit eh malah nggak ada gyroscopenya. Untuk ukuran 5 inchi bisa dibilang Vivo V3 punya semuanya.

Bicara kelebihan nggak enak kalau nggak bahas kekurangannya. Berikut kekurangan yang saya rasakan:
- Tidak support quick charge. Ini yang agak kecewa karena Vivo V3 sudah pakai snapdragon 616 dan masuk list qualcomm tapi nyata memang g support quick charge walau di charge pakai adaptor yang support quick charge. Semoga pihak Vivo mau mengaktifkan fitur ini. Mungkin supaya nggak membunuh sodaranya si Vivo V3 Max yang support quick charge
- OS masih lolipop 5.1. Belum ada marshmallow dan kabarnya tidak dapat update android M. Menurut saya tidak ada yang special banget dari android M jadi stay di android 5.1 untuk 1-2 tahun ke depan masih ok lah
- Led notifikasi yang cuma ada warna hijau. Ini cukup merepotkan karena notif led di app harus di set ke warna hijau kalau mau menyala.

So far 3 kelemahan dari lahir yang menurut saya tidak bisa terelakan. Langsung saja masuk ke bahasan utama. Di sini saya tidak banyak membahas soal spek dan bahkan desain gambarnya. Semua bisa didapatkan di website lain karena sudah banyak yang bahas.

Desain Ponsel
Desain Vivo V3 cukup compact dan tipis. Bahannya metal dan enak digenggam baik menggunakan 2 tangan maupun satu tangan. Karena masih sayang bodi jadi dipakein softcase bening bawaanya. Penggunaan softcase tidak membuat ponsel jadi bulky atau terasa tebal dan masih enak digemgang. Selama pengoperasian tidak terasa panas kecuali jika digunakan untuk main game. Panas yang dihasilkan untuk gaming atau aplikasi berat lainnya masih tergolong wajar.

UI
Soal UI terus terang experiencenya sangat berbeda. Desain UI-nya bisa dibilang campuran android dan iPhone yaitu menggunakan single layer icon. Task manager dan Icon setting ditarik dari bawah, tidak seperti kebanyakan android yang discroll dari atas ke bawah. Terus terang saya menyukai gaya UI seperti ini. Sekian lama pakai android paling males dan bosan harus tarik bar notifiksi dari atas ke bawah. Soal notifikasi memang sama dengan android lain yaitu tarik dari status bar ke bawah tetapi di UI ini memberikan beberapa aplikasi seperti BBM, Whatsapp, SMS, Email yang memiliki notification count di icon. jadi ketika ada notif akan muncul di icon app tersebut. Hal ini buat saya cukup memudahkan karena tidak perlu scroll tapi bisa langsung tap iconnya.

Beberapa catatan yang tidak mengenakkan kalau notif sudah dibuka kemudian ke lock screen menjadi tidak muncul lagi di layar depan. Notifikasi pada saat lock screen tidak bisa ditarik ke bawah untuk melihat previewnya, jika ada banyak pesan masuk pada kondisi lock screen tidak kelihatan previewnya. Harus unlock dan scroll status bar untuk melihat previewnya. Aplikasi spotify tidak muncul di layar lock screen, untuk aplikasi bawaan muncul di lock screen.

Multitasking
Banyak yang bilang spek tinggi tapi UI lag, multitasking lemot, dsb. Android karena saking opennya jika tidak dioptimize dengan baik menyebabkan resource hardware tidak teralokasi dengan baik. Di Vivo V3 saya hampir tidak merasakan lag. Penggunaan ram 3GB mungkin membantu karena ram hanya terpakasi 60-70% saja. Perpindahan antar app smooth dan saat buka app tidak ada lag. Mungkin karena masih 2 minggu, saya perlu test sekitar 1 bulan lebih apakah masih smooth atau tidak seiring bertambahnya cache di ponsel.

Satu fitur yang cukup membantu adalah split view. untuk app tertentu bisa menampilkan 2 windows. Contohnya ketika sedang melihat video di youtube dan ada notif dari whatsapp. Kita bisa menampilkan windows whatsapp dan menulis pesan sambil tetap nonton video di youtube.

Multimedia
Soal multimedia hampir cukup ok. Layar terang dan suara mantab karena speaker ada di bawah jadi walaupun diletakan di atas kasur suara masih tetap terdengar. Hi-FI menjadi salah satu andalan vivo V3, dengan chip musik AK4375 yang bisa dipakai di music player mahal, suara ketika mengguna headset jadi terasa lebih detail. Selain itu ada pengaturan khusus untuk beberapa handset sayangnya tidak banyak pilihannya. So far dari segi audio vivo v3 bisa dibilang juara dibanding smartphone lain di kelasnya

Fitur gesture dan sensor 
Gesture yang ada di Vivo V3 bisa saya bilang lengkap. Double tap to wake/off bisa dijalankan dengan lancar. Ada shorcut di lock screen untuk membuka camera atau diset untuk aplikasi lain. Gesture untuk membuka aplikasi dengan menggambar symbol. Selain bawaan kita diberi opsi untuk mengambar sendiri dan menentukan app yang dibuka. Tidak cuma soal shortcut, Vivo v3 punya opsi untuk mengatur layar ketika sedang ditatap maka layar tidak akan redup dan ketika tidak ditatap layar mati. Fitur screen on ketika di keluarkan dari saku dan fitur air wave yaitu mengerakan tangan tanpa menyentuh layar. Untuk mute call dengan flip layar maupun menerima panggilan dengan di dekatkan telinga juga ada. Pokoknya lengkap masalah gesture dan sensornya.

Battery
Kapasitas battery 2550 menurut saya pas untuk ukuran layar full HD. Saya menggunakan dual sim dengan koneksi 4G. Dari pagi jam 8 sampai malam jam 8 battery ponsel masih sisa 20-30%. Pemakaian saya kebanyakan untuk email, chat dan sosmed saja. Sayangnya di Vivo V3 tidak ada menu untuk melihat screen on time. Menurut saya pribadi untuk penggunaan dual sim termasuk irit. Jika menggunakan Wifi bisa lebih irit lagi.

Update OS
Selama saya pakai sudah mendapat 2x update tapi informasi patch securitynya tidak ada sehingga tidak bisa tahu apakah sudah menggunakan patch update security terbaru.

Security
Karena saya security freak ini jadi bagian yang tidak lepas dari review saja. Vivo menggunakan fingerprint scanner yang cepat untuk unlock layar. Kelemahannya karena ada di belakang jadi susah ketika dioperasikan di meja. Fitur tambahan security di Vivo ada di aplikasi iManager. Di aplikasi ini ada fitur untuk scan junk file dan optimalisasi. Nah yang menarik adalah fitur pengaturan permission. Ini mirip seperti di android marshmallow. Kita bisa melihat satu per satu app diberikan permission apa saja dan kita bisa mengaturnya. Untuk privace iManager menawarkan fitur private space. Fitur ini dapat mengenkripsi file video, audio, doc dan app. Unlocknya menggunakan pattern atau finger print. Jadi jika kita ada file sensitif di Micro SD bisa dienkripsi dengan iManager ini. OS bawaan tidak memberikan opsi untuk enkripsi internal storage maupun micro sd, Namun hal ini bisa diakali dengan melalukan enkripsi menggunakan iManager. Lebih flexible untuk memilih file dibanding full encrytion.

Secara overall experience menggunakan Vivo V3 nyaris tanpa kendala. Semuanya smooth dan banyak fitur bawaan yang berguna. Tidak banyak bloatware yang mengganggu. Perfoma dan daya tahan battery seimbang.

Bagi yang mencari HP dengan fitur seperti yang saya sebutkan di atas bisa dipertimbangkan memilih Vivo V3. HP ini masuk resmi di indonesia dan akan segera membangun pabrik seperti saudaranya Oppo jadi jangan takut masalah garansinya.

no image

Banyak di antara kita membutuhkan micro sd sebagai tambahan storage untuk smartphone. Saat ini harga micro sd sudah semakin murah. Kapasitats dan kecepatannya pun semakin bertambah. Penggunaanya yang praktis membuat banyak pengguna memanfaatkan micro sd sebagai storage tambahan. Tetapi tahukah anda bahwa menyimpan data di Micro SD tidak lah aman?

Security pada internal storage vs Micro SD

Ponsel android keluaran baru sudah tidak lagi menggunakan mode mass storage saat dibaca di PC/Laptop. Android versi kitkat ke atas menggunakan metode MTP (Media Transfer Protocol). Apa bedanya MTP dengan Mass Storage??

MTP merupakan protokol tambahan di android dimana pada saat di koneksikan dengan PC/Laptop maka akan dikenali seperti device baru. Pembacaan storage baik itu internal storage maupun Micro SD dibaca melalui OS Android. Sementara Mass Storage langsung membaca ke storage fisiknya tanpa lewat OS Android. Kelebihan MTP selain secure adalah storage masih bisa diakses secara bersamaan di PC maupun di smartphone sementara mass storage storage hanya bisa diakses di PC, tidak bisa bersamaan diakses.

Nah apa yang membuat MTP lebih secure? karena transfer data dikendalikan oleh android maka pada saat kondisi ponsel lock, ketika ponsel dihubungkan melalui USB ke PC tidak akan langsung dikenali. Device MTP akan dikenali setelah lock screen dibuka. Jadi ketika ponsel tergeletak dengan kondisi terkunci data di dalam ponsel kita tetap aman. Bila ada orang yang menghubungkan ke PC/Laptop tanpa sepengetahuan anda maka tidak akan bisa dibuka.

Lain cerita bila kita menyimpan data di micro sd. Sifat removable micro sd membuatnya rentan dibaca di device lain tanpa pengaman apapun. Bayangkan ketika ponsel sedang tergeletak dan dalam kondisi lock screen, Micro SD bisa dilepas dan diakses dengan PC/Laptop. Tanpa proteksi apapun data pada Micro SD sangat mudah diakses orang yang tidak bertanggung jawab.

Proteksi Micro SD dengan Fitur Encryption 

Sejak Android versi Lolipop 5.0, fitur disk encryption menjadi fitur standard di Android. Namun karena issue peforma banyak vendor Ponsel menonaktifkan encryption. Pada versi ini ada fitur untuk mengenkripsi micro sd dimana seluruh data dalam micro sd akan dienkripsi. Setelah dienkripsi data di micro sd tidak akan bisa dibuka tanpa ponsel. Ketika micro SD dilepas dan dibaca di PC maka tidak ada file yang terbaca karena sudah terenkripsi. Micr SD harus dibaca dengan mode MTP dan ponsel tidak dalam kondisi lock.

Cara ini bisa mengatasi kerentanan pada Micro SD dan untuk akses data di Micro SD pada ponsel juga tidak ada gangguan tetap seperti tidak dienkripsi. Membuka galery, file, dsb di android lancar tanpa harus melakukan dekripsi terlebih dahulu. Namun tentunya data di micro SD harus selalu dibackup karena jika ponsel rusak atau dilakukan reset factory data di micro SD masih ada backupnya. Ketika sudah memilih enkripsi maka ketika ponsel rusak atau dilakukan reset data di dalam micro SD tidak akan bisa di dekripsi lagi dan itu artinya data di dalamnya tidak bisa dibaca lagi. Satu-satunya cara hanyalah format micro sd tersebut.

Tidak banyak vendor mengaktifkan fitur enkripsi untuk micro sd. Mungkin fitur ini dianggap tidak terlalu penting padahal enkripsi micro sd menjadi keharusan bagi sebagian user yang mengutamakan privacy. Solusi lain adalah menggunakan aplikasi pihak ketiga seperti ES File Manager. App tersebut menawarkan fitur file enkripsi yang bisa dipilih sehingga tidak semua file di dalam micro sd diproteksi. Kelemahan cara ini adalah harus melakukan dekripsi dahulu jika akan digunakan di aplikasi lain

no image

Kali ini saya mau menulis seputar pembelian rumah indent berdasarkan pengalaman dan info yang saya ketahui. Tentu jika anda cari seputar pengajuan KPR sudah banyak blog dan situs yang memberikan informasinya dan kurang lebih sama infonya. Saya akan bahas lebih spesifik yaitu pembelian untuk rumah indent. Ok langsung saja ke pembahasannya.

Sebelumnya saya mau menjelaskan apa itu rumah indent. Dalam tulisan ini saya akan membahas rumah yang dijual namun secara fisik belum jadi alias hanya gambar saja. Di indonesia praktek penjualan rumah indent ini cukup banyak kita temui. Ada beberapa keuntungan dari sisi developer dan konsumen dalam prakterk penjualan rumah indent.

Developer tentunya dapat menjual rumah sebelum rumahnya dibangun dengan bantuan dana dari konsumen. Sementara konsumen mendapat harga lebih murah dibanding jika bangunannya sudah jadi . kenapa bisa lebih murah? Karena lingkungannya belum terbentuk sehingga dan developer tentunya membutuhkan tambahan modal untuk membangun rumah.

Namun ada kerugiannya juga membeli rumah indent. Sayangnya lebih banyak konsumen yang dirugikan. Selain tidak tahu kualitas bangunan juga rawan gagal bangun alias mangkrak dan developernya bangkrut. Untuk itu pemilihan developer yang bagus sangat diperlukan. Minimal sudah ada proyek perumahan yang sudah dibangun, jika belum ada resikonya tentu sangat bersar. Dukungan dan kerja sama dengan bank juga menjadi indikator developer cukup kredibel.

Sebenarnya pemerintah sudah mengatur hal yang menguntungkan konsumen yaitu Akad kredit baru bisa dilaksanakan ketika proses pembangunan sudah di atas 80-90%. Artinya bank baru akan membayar developer ketika rumah sudah berbentuk dan selama proses tersebut konsumen tidak boleh dipungut iuran bulanan. Namun ada celah dari proses ini yang dimanfaatkan developer untuk berbuat curang.

Seperti kita tahu untuk bisa akad KPR ada uang down payment 10-30% yang dibayarkan ke developer karena bank tidak boleh menyalurkan kredit 100% ke developer. Yang perlu anda ingat adalah anda belum berurusan dengan bank jika Surat Pemberian Kredit belum dikeluarkan bank untuk anda, biasa dikenal dengan istilah SP3. Sebelum ada surat tersebut maka anda tidak ada kewajiban apapun kepada bank. Perlu anda ketahui juga bahwa keluarnya SP3 bukan final atau anda bisa tenang dengan KPR anda. Sebelum akad KPR dilaksanakan maka posisi anda belum lah aman.

Kembali ke Down payment tadi. Kebanyakan urusan pembayaran DP adalah antara konsumen dengan developer, di sini bank tidak campur tangan dan cukup jarang bank campur tangan di sini. Jadi transaksi ini murni antara konsumen dengan developer. Sebelum DP biasanya ada uang tanda jadi atau bisa juga disebut NUP. Biaya ini tidak bisa ditarik dan tidak masuk dalam perhitungan DP. Pembayaran DP pun beragam ada yang harus langsung lunas atau bertahap. Sebaiknya pilih pembayaran pertahap walaupun anda mampu membayar lunas. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan resiko jika pengembang tidak memenuhi janjinya. Cicilan DP juga tidak dikenakan bunga, sangat jarang developer mengenakan bunga untuk DP. Jadi sebaiknya anda manfaatkan.

Transaksi DP ini anda harus benar-benar teliti dan memilih developer yang kredibel. Resikonya jika anda sudah DP dan developer bangkrut atau kabur maka uang anda hilang. Dengan membayar DP bertahap maka resiko kehilangan dapat diminimalkan. Lakukan beberapa proses untuk meminimalkan resiko dan membuat kedudukan anda tidak lemah:

1. Usahakan buat PPJB atau Perjanjian Pra Jual Beli yang intinya nanti perjanjian tersebut menjadi Akta Jual Beli yang ditanda tangani notaris. PPJB dapat dibuat tanpa notaris ataupun dengan notaris, sebaiknya dibuat dengan notaris agar kekuatan hukumnya lebih tinggi lagi.
2. Selalu minta bukti tanda terima pembayaran DP sebagai bukti anda sudah membayar.

Dengan melakukan langkah di atas developer terikat pada perjanjian sehingga apabila bangkrut atau ingkar anda bisa menuntut developer tersebut dan kemungkinan uang anda masih bisa kembali. Tahapan DP inilah posisi paling rawan.

Setelah fisik rumah jadi 80-90% mintalah segera Akad kredit dengan bank. Bila developer sudah bekerja sama dengan bank proses ini akan lebih mudah karena segala urusan surat-surat dan pemecahan sertifikat sudah diatur oleh bank. Kita hanya perlu Akad dengan bank saja. Setelah Akad kewajiban pembayaran rumah sepenuhnya akan dilakukan oleh bank kepada developer. Di sini urusan kita dengan developer sudah selesai. Urusan kita sekarang dengan bank untuk membayar kewajiban pembayaran bulanannya.

Dengan melalui KPR kita diuntungkan dengan tidak perlu repot mengurus surat-surat lagi. Mengecek keaslian IMB, Sertifikat, dll adalah tugas bank dan sudah semua dikerjakan oleh bank. Kemungkinan kita membeli rumah dengan sertifikat yang masih sengketa atau IMB palsu sudah diminimalkan di sini. Bank tentu sangat berhati-hati dengan developer. Mereka memliki aturan sendiri untuk bisa bekerja sama dengan developer.

Pembelian Cash Bertahap tanpa melalui KPR 

Selain melalui KPR Bank, beberapa developer juga menerapkan sistem Cash bertahap. Biasanya jangka waktu sampai 5 tahun dan bisa tanpa bunga. Jika ada sangup melunasi dalam jangka waktu yang singkat pilihan ini tentu cocok dengan anda namun sekali lagi resikonya lebih besar dibanding lewat KPR. Jika developer sama sekali tidak bekerja sama dengan bank dalam artian sistem penjualanya menggunakan cash bertahap dan KPR namun konsumen yang mengurus sendiri maka anda perlu berhati-hati. Masalah surat-surat anda harus cek benar keasliannya dan tidak sengketa karena di sini proyek perumahan tersebut murni tidak ada kerja sama dengan bank.

Resiko developer pailit dan tidak mampu bayar sangat besar apabila developer tersebut tidak mempunyai modal yang cukup. Berbeda dengan developer yang bekerja sama dengan bank. Pada tahap pembangunan jika developer tersebut sudah pernah membangun 1 perumahan, bank biasanya akan memberikan sekian persen dana kenapa developer untuk membangun rumah.

Lakukan cash bertahap jika anda benar-benar yakin developer tersebut kredibel dan memiliki modal yang cukup untuk menyelesaikan proyeknya.

Tip supaya tidak kena bunga yang tinggi

Nah bagaimana kalau sebenarnya kita punya uang cash yang cukup atau kurang sedikit untuk membeli tunai namun kita tidak yakin atau takut ditipu oleh developer? Saran saya belilah dengan sistem KPR. Lah tapi nanti kena bunga dong?

Memang kita akan dikenalan bunga, biaya provisi, dst. Namun kalau kita hitung biaya seperti pengurusan pajak, notaris, dsb kita juga harus bayarkan. Hanya bedanya ada biaya provisi, pengalihan hak dan sebagainya serta bunga per bulan.

Kita manfaatkan saya pelunasan dipercepat. Beberapa bank memberikan fasilitas pelunasan dipercepatan setelah 1 tahun kredit. Nah lunasi saja setelah satu tahun, namun perlu dilihat dulu jika sertifikatnya sudah jadi. Biasanya kita dikenakan denda 1% dari sisi pokok hutang. Anggap saja bunga dan biaya2 tersebut kita keluarkan untuk mencegah resiko. Sisa uangnya bisa kita gunakan untuk ditabung atau diinvestasikan juga.

Memang awal2 tahun bank akan memperoleh porsi bunga yang lebih besar dengan sistem bunga anuitas karena hal tersebut digunakan untuk meminimalisir kredit macet. Bank memperoleh bunga yang lebih besar sebelum terjadinya kredit macet.

Sekian info dan berbagi pengalaman saya dalam membeli rumah indent. Memang resikonya besar namun bukan berarti kita tidak bisa mengurangi resiko tersebut.




no image

HP BM sejak jaman dulu memang sulit diberantas. Entah ketidak tegasan petugas dilapangan atau memang oknum importing yang lihai memasukan barang. Melanjutkan tulisan saya tentang TKDN HP BM adalah satu masalah yang perlu ketegasan pemerintah untuk dapat membatasi peredarannya.

Beberapa waktu lau gencar dilakukan razia HP BM yang kebanyakan merek Xiaomi. Knp Xiaomi banyak kena razia? HP ini merupakan salah satu HP murah dengan spesifikasi yang di atas rata-rata brand lain. Sebenarnya bisa murah karena memang masuknya secara ilegal dan tidak bayar pajak. Banyak toko di online shop menyebutnya garansi distributor. Ok cukup pembahasanya soal xiaomi, saya akan bahas pada post tersendiri.

Keberadaan HP BM ini tentu merugikan daeler resminya karena secara harga jelas menjadi tidak bisa bersaing dan citra brand tersebut menjadi jelek karena kualias HP BM belum tentu sama dengan yang garansi resmi. HP BM masuk tanpa melalui proses sertifikasi dari dirjen postel. Proses sertifikasi ini penting untuk memastikan HP yang akan di jual cocok dengan jaringan yang ada di indonesia. Banyak keluhan dari pembeli HP BM mengenai sinyal yang jelek, tidak support 3G maupun 4G. Wajar saja hal ini terjadi karena HP tersebut dijual untuk negara lain yang secara frekuensi maupun jaringan berbeda dengan indonesia.

HP yang sudah bersertifikat postel sudah dipastikan bisa digunakan dengan operator yang ada di indonesia tanpa kendala. Ketersediaan service resmi juga jelas karena jaminan purna jual juga menjadi salah satu poin agar ponsel mendapat sertifikat lolos uji. Selain itu aksesoris seperti kepala charger yang sesuai dengan standard indonesia dan buku manual bahasa indonesia. Soal garansi memang HP BM ada garansi distributor namun spare part yang digunakan dan waktu perbaikan bisa jadi lebih lama.

Hal-hal semacam ini yang banyak konsumen di indonesia tidak mengetahui dan ujung-ujungnya menyalahkan brand tersebut padahal brand tersebut masuk ke indonesia tidak melalui daeler resmi yang ditunjuk oleh bran yang bersangkutan. Brand dan daeler resmi tidak bisa berbuat banyak dengan maraknya ponsel BM yang beredar. Pemerintah dituntut tegas dalam mengurangi peredaran HP BM di pasaran.

Tugas ini tentunya bukan hanya wewenang kominfo karena pintu masuk ke indonesia ada di bea cukai dan kementrian perdagangan. Kominfo tentu tidak bisa berbuat banyak dengan distribusi tersebut. Tetapi kominfo punya jurus jitu untuk memberantas HP BM tersebut. Kominfo dapat memblokir nomer IMEI HP yang tidak lolos sertifikasi sehingga HP tersebut tidak bisa digunakan dengan operator indonesia.

Seperti kita ketahui bahwa setiap perangkat HP memiliki nomer IMEI unik yang berbeda-beda. Nomer IMEI ini digunakan untuk register ke jaringan operator. Jika IMEI tersebut diblokir oleh operator maka HP tersebut tidak bisa masuk ke jaringan operator. Sistem ini mudah untuk diterapkan dan langsung kelihatan hasilnya dalam mengurangi peredaran HP BM. Namun dampaknya sangat merugikan konsumen.

Hal yang perlu diperhatikan adalah pertanggujawaban ke konsumen. Bagaimana jika konsumen tidak tahu HP yang dibeli itu BM? apa kompensasinya ke konsumen dan siapa yang akan bertanggung jawab. Konter yang menjual? atau distributor HP yang memasukan HP tersebut?

Setidaknya jika aturan ini akan diterapkan harus ada sosialisasi ke konsumen dan solusinya jika HP yang mereka ternyata BM. Jika konter atau distributor tidak bisa mengganti unit akan bagaimana?

Hmm saya pribadi sangat setuju jika aturan ini diberlakukan namun tentunya perlu dipikirkan matang solusinya agar konsumen juga tidak dirugikan jika HP yang dibelinya adalah BM.

no image

Ada teman pengen install dual boot linux dengan windows namun dia tidak memahani apa sih itu EXT4, MBR, GUID, Mount, dll. Akhirnya saya ceritakan panjang lebar supaya paham dulu basicnya. Tujuannya agar tidak salah langkah dalam install linux. Banyak yang nggak paham atau hanya ngerti setengah-setengah dan akhirnya malah partisi windowsnya rusak. Bagi yang mau dual boot pahami dulu ketiga hal ini. Oke langsung saja ke pembahasannya

1. File system
File system adalah sekumpulan perintah untuk menyimpan file. Kalau dianalogikan sebuah tempat penyimpanan buka, file system ini adalah metode atau flow proses bagaimana buku ditata ke dalam rak. Sebagai contoh buku yang kecil di depan sedangkan yang besar dibelakang. Semua ruangan harus terisi dengan buku alias kalau ada tempat kosong maka yang dibelakang dipindah ke depan supaya rapi, dst. Tujuan dari file system ini adalah untuk mengatur agar file atau dokumen tersimpan dengan baik sehingga mudah dicari, tidak berantakan, dan sebagainya. 

Setiap operating system memiliki file system sendiri-sendiri. Untuk keluarga windows ada FAT, FAT32, dan NTFS. System operasi moderen seperti windows 7, 8, 8.1 dan 10 cenderung dijalankan dengan NTFS yang merupakan system file modern. Untuk linux ada EXT2, EXT3, EXT4, dan Swap. Linux moderen biasanya defaultnya akan menggunakan EXT4 untuk data dan file system tipe swap yang digunakan sebagai swap. Lalu untuk macintosh menggunakan partisi HFS+.

Apakah semua file system tersebut dapat saling disupport? secara native tidak semua saling support. FAT32 bisa dibilang universal karena linux dan mac bisa membaca dan menulis di file system FAT32. Untuk NTFS linux dan mac bisa membaca namun untuk write dibutuhkan aplikasi pihak ketiga. Sementara windows tidak bisa membaca file system linux dan Mac secara native. Diperlukan aplikasi pihak ketiga untuk mengaksesnya. 

sebagai tempat installasi OS wajib menggunakan partisi defaultnya. Contoh windows menggunakan NTFS untuk partisi yang menampung OS, linux menggunakan EXT4 untuk partisi OS-nya dan mac menggunakan HFS+. Sementara untuk data tidak harus sama, jika tidak mau report bisa menggunakan FAT32 atau ExFAT. File system exFAT mirip dengan FAT32 namun dapat menyimpan single file berukuran lebih dari 4GB dimana ada FAT32 terdapat limitasi untuk single file berukuran di atas 4GB. 

2. Partition
Sering kali banyak yang beranggapan kalau partition itu adalah drive C:, drive D:, dst. Hal ini tidak lah salah namun kurang tepat. Model drive hanya digunakan di OS Windows sedangkan di Linux tidak mengenal drive demikian juga di MAC. Lalu apa sih partition itu?

Sesuai namanya partition atau dalam bahasa indonesia partisi adalah sebuah sekat. Kita ibaratkan hardisk adalah sebuah ruangan. Partisi adalah pemisah di dalam ruangan tersebut. Misalnya dibagi menjadi 2 bagian, 4 bagian, dst. Masing-masing bagian ini dapat memiliki file system yang berbeda-beda. Ibarat partisi pertama menggunakan rak kecil sementara partisi lainya menggunakan rak besar, dst.

Sesuai fungsinya partisi untuk membedakan ruang penyimpanan data. Idealnya sebuah hardisk minimal memiliki 2 partisi, 1 untuk menampul file2 operating system satu lagi untuk penyimpanan file. Tujuannya adalah apabila akan dilakukan install ulang cukup memformat partisi OS saja sehingga data tidak hilang karena partisi data tidak ikut diformat.

Nah untuk dual booting ini maka perlu rencana pembuatan partisinya. Misal hardisk 500GB idealnya dibagi 3 atau 4 bagian. 1 untuk partisi windows (NTFS), 1 untuk partisi linux (EXT4), 1 untuk partisi SWAP dan 1 partisi untuk data. Swap idealnya 2x jumlah RAM dan untuk data bisa menggunakan Exfat agar dapat diakses oleh windows maupun linux tanpa kendala.

Balik lagi ke awal mengenai penamaan partisi. Pada system windows partisi akan dibaca sebagai drive sedangkan di linux partisi dibaca sebagai folder-folder. Pada linux partisi utama dibaca menggunakan simbol / yang berisi file2 system operasi linux. Sedangkan untuk data menggunakan /Home dan /Swap untuk partisi Swap. Sebenarnya tidak ada perbedaan hanya namanya saja yang berbeda. 

Ada istilah mount di linux yang fungsinya adalah mengarahkan. Sebagai contoh hardisk external yang ditancapkan pada usb oleh linux akan terdeteksi pada folder /dev/sda1. Perintah mount akan memudahkan kita misalnya dimount ke /storage maka untuk membuka hardisk external tersebut tidak perlu ke /dev/sda1 namun cukup ke /storage. Mount ini juga digunakan di Windows namun pada OS windows hardisk menggunakan mount drive (C.D.E.dst) sebagai pembeda dari folder. 

Silahkan ditentukan dulu jumlah partisinya jangan main install aja tanpa memperhatikan structur partisinya.

3. Partition Table

lanjut ke masalah partition table. Bisa dikatan partition table ini adalah struktur yang menyimpan informasi dari partisi-partisi tadi. Ada 2 tipe partition table yang lazim digunakan yaitu MBR dan GPT. 

MBR atau master boot record biasa digunakan oleh OS windows. MBR ini berisi informasi mengenai partisi dan file systemnya. Pada saat boot informasi pada MBR inilah yang akan dibaca pertama kali sehingga lokasi partisi OS bisa terbaca dan dijalankan. Structur MBR terdiri dari Primary partition dan logical partition. OS harus diinstall pada primary partition sedangn logical digunakan untuk menampung data. Kelemahan MBR hanya memperbolehkan membuat 4 primary partition dengan kata lain hanya bisa install 4 OS di primari partition. Hal ini karena dalam MBR os harus diinstall pada primary partition agar dapat terbaca pada saat booting. Selain windows, linux juga support menggunakan partisi MBR. Semenjak era windows 8 microsoft mulai meninggalkan MBR dan beralih ke GPT. Hal ini terkait perkembangan motherboard yang mulai beralih ke UEFI dan UEFI sendiri hanya bisa berjalan pada partition table GPT.

GPT atau Guid Partition Table sudah dipakai lama oleh Mac dan OS unix. Pada GPT tidak ada lagi primary dan logical. Semua partisi dianggap sama dan bisa dilakukan boot. GPT memiliki dukungan pembuatan partisi yang lebih baik dibanding MBR. Apabila GPT digabungkan dengan UEFI maka boot akan menjadi lebih cepat. UEFI tidak perlu lagi membaca MBR namun bisa langsung ke partisi yang dituju. Informasi boot tersimpan pada sebuah partisi yang berisi lokasi OS.

Nah demikian penjelasan mengenai file system, partition dan partition table. Semoga memberi pencerahan bagi yang kan install dual boot atau sedekar mengganti-mengganti partisi hardisk.